BANDOENGMOOI – Senja turun perlahan di perbukitan Bandung Barat , meninggalkan gurat jingga yang biasanya menenangkan. Namun sakitnya, langit di atas Kabupaten Bandung Barat terasa lebih muram dari biasanya. Hujan semalaman telah mengguyur lereng-lereng hijau, hingga tanah yang abadi ini setia menopang rumah-rumah warga akhirnya tak lagi mampu bertahan. Longsor datang tanpa aba-aba, meruntuhkan dinding, mematahkan pohon, dan menggetarkan hati banyak orang.
Kabar itu cepat menyebar. Di grup pesan singkat, di linimasa media sosial, hingga dari mulut ke mulut selepas asar. Di tengah kesibukan Ramadhan, dua komunitas yang biasa berbagi cerita tentang sosial budayaan dan lingkungan — Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM) dan Jala Bhumi Kultura (JBK)—mendadak setuju. Biasanya mereka berdiskusi tentang sosial dan budaya, sudut estetika seni dan lainnya. Namun hari itu, yang dibicarakan hanya satu: bagaimana membantu korban longsor.
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Era tahun 2010 sampai sekarang minat masyarakat Bandung Raya untuk menjadi pelaku seni Longser mulai meredup, baik di kalangan kampus maupun komunitas...
YAYASAN KEBUDAYAAN BANDOENG MOOI
Bandoengmooi berdiri 26 September 1996, merupakan sebuah komunitas budaya yang independen. Fokus pada pengembangan seni dan budaya lokal dan sumber daya...