BANDOENGMOOI – Senja turun perlahan di perbukitan Bandung Barat , meninggalkan gurat jingga yang biasanya menenangkan. Namun sakitnya, langit di atas Kabupaten Bandung Barat terasa lebih muram dari biasanya. Hujan semalaman telah mengguyur lereng-lereng hijau, hingga tanah yang abadi ini setia menopang rumah-rumah warga akhirnya tak lagi mampu bertahan. Longsor datang tanpa aba-aba, meruntuhkan dinding, mematahkan pohon, dan menggetarkan hati banyak orang.
Kabar itu cepat menyebar. Di grup pesan singkat, di linimasa media sosial, hingga dari mulut ke mulut selepas asar. Di tengah kesibukan Ramadhan, dua komunitas yang biasa berbagi cerita tentang sosial budayaan dan lingkungan — Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM) dan Jala Bhumi Kultura (JBK)—mendadak setuju. Biasanya mereka berdiskusi tentang sosial dan budaya, sudut estetika seni dan lainnya. Namun hari itu, yang dibicarakan hanya satu: bagaimana membantu korban longsor.
BANDOENGMOOI - Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YBKM) peringati hari jadi Komunitas Bandoengmooi ke 30 tahun dengan meluncurkan Panggung atau Teater Terbuka Rintisan Kampung Longser...
BANDOENGMOOI - Sanggar Seni Bandoengmooi bersama Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi gelar pertunjukan seni Longser (teater tradisional Jawa Barat) berjudul Munding Dongkol, Sabtu 26 September...