SENI.CO.ID — Pendekatan yang dilakukan dalam drama yang dtulis Hermana HMT dalam pertunjukan “Munding Dongkol ” versi kontemporer memang terasa bukan hanya kuat secara artistik, tetapi juga tajam secara gagasan. Ia berhasil mengangkat sebuah cerita rakyat Sunda yang mungkin selama ini dipahami secara mitologis, lalu membongkarnya, mengolahnya ulang, dan menghidupkannya kembali sebagai kritik sosial yang relevan dengan kondisi hari ini—khususnya krisis lingkungan dan persoalan air bersih.
Judulnya saja sudah provokatif. Munding Dongkol bukan sekadar nama tokoh atau kisah, tetapi mengandung lapisan makna yang dalam. Dalam tradisi lisan, munding (kerbau) sering diasosiasikan dengan kekuatan, ketahanan, dan juga sisi liar dari alam. Sementara “dongkol” membawa nuansa emosi—amarah, kejengkelan, atau ketegangan yang memuncak. Ketika dua kata ini digabungkan, ia menghadirkan sosok yang bukan hanya fisik, tetapi juga simbolik: kekuatan yang terdistorsi, kemarahan alam yang dipicu oleh sesuatu yang tidak seimbang.
Dalam versi kontemporer ini, Hermana tidak lagi menempatkan munding sebagai makhluk mistis semata. Ia menggeser maknanya menjadi simbol keserakahan manusia—sebuah kekuatan destruktif yang lahir dari ambisi yang tak terkendali. Di sinilah kecerdasan konseptual karya ini terlihat. Alih-alih mempertahankan tafsir lama secara literal, ia memilih untuk membaca ulang mitos tersebut melalui lensa krisis ekologis modern.
Simbol bulldozer yang dimunculkan dalam pertunjukan menjadi salah satu elemen visual paling mencolok dan efektif. Mesin besar berwarna kuning yang berdiri di atas tanah kering bukan hanya properti panggung, melainkan metafora yang berbicara keras. Ia mewakili wajah pembangunan yang agresif—yang sering kali mengorbankan keseimbangan alam demi kepentingan ekonomi jangka pendek. Dalam satu gambar, penonton langsung dihadapkan pada kontras yang menyakitkan: teknologi versus alam, kemajuan versus kehancuran, ambisi versus keberlanjutan.

Sajian Komunitas Bandoengmooi Kota Cimahi kerjasama dengan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) serta disokong Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pasriwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) saat gelar pertunjukan Musikal Teater dan Tari “Munding Dongkol”, Kamis 16 April 2026, pukul 15.30 wib. di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat luar biasa.
Pertunjukan Musikal Teater Munding Dongkol ini melibatkan sekitar 45 orang personil seniman muda dibidang seni tari, teater, musik, dan pencak silat, gabugan dari komunitas seni Kota Cimahi (Jalingeur, Putri Mandiri, Kidang Kencana) dibawah binaan DKKC. Sedangkan komunitas Bandoengmooi ditunjuk sebagai trigger dalam mengemas pertunjukan dengan arahan daramaturg Hermana HMT, sutradara Hafidz Permana, koreografer Riska, Nia dan Redja, penata musik Fitra, Adit dan Oki, penata pencak silat Melodia dan Sisca, Multimedia Syifa dan Ihval, secara sajian mendapat Aplus…yang kuat dari audien
Hermana HMT, dramaturg juga penulis cerita pertunjukan Musikal Teater Munding Dongkol mengatakan, kegiatan ini difasilitasi UPTD Pengelolalaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat (PKDJB), Taman Budaya Jawa Barat sebagai unit teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat dengan tajuk Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat 2026 yang didukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Sajian yang membuatnya semakin kuat adalah cara simbol ini tidak dijelaskan secara verbal. Tidak ada ceramah, tidak ada narasi yang menggurui. Semua disampaikan melalui bahasa tubuh, komposisi ruang, dan atmosfer. Di sinilah kekuatan seni pertunjukan bekerja secara maksimal. Penonton tidak dipaksa untuk “mengerti”, tetapi diajak untuk “merasakan”. Dan justru melalui rasa itulah pesan menjadi lebih dalam dan membekas.
Medium drama tari musikal yang dipilih juga sangat tepat. Isu lingkungan sering kali terasa jauh atau bahkan membosankan ketika disampaikan dalam bentuk data dan angka. Statistik tentang krisis air bersih, deforestasi, atau perubahan iklim memang penting, tetapi tidak selalu mampu menyentuh sisi emosional manusia. Sebaliknya, ketika isu yang sama diterjemahkan ke dalam gerak tubuh, irama musik, dan visual panggung yang kuat, ia menjadi pengalaman yang hidup.

Gerakan para penari, misalnya, bisa dibaca sebagai representasi tubuh alam yang tertekan. Ketegangan otot, ritme yang tidak stabil, hingga interaksi antar tubuh menciptakan narasi tanpa kata tentang konflik, perlawanan, dan kelelahan. Musik yang mengiringi—entah itu tradisional, kontemporer, atau perpaduan keduanya—menjadi lapisan emosional yang memperkuat suasana. Kadang ia membangun ketegangan, kadang menciptakan kehampaan, kadang justru menjadi suara “alam” yang seakan ingin berbicara.
Selain itu, penggunaan ruang dan tata panggung juga memainkan peran penting. Tanah kering, warna-warna kusam, dan kehadiran mesin berat menciptakan lanskap yang terasa gersang dan tidak bersahabat. Ini bukan sekadar latar, tetapi bagian dari narasi itu sendiri. Penonton tidak hanya melihat cerita, tetapi seolah masuk ke dalam dunia yang sedang mengalami krisis.
Yang menarik, karya ini tidak berhenti pada kritik. Ia juga membuka ruang refleksi. Dengan mengaitkan mitos lokal dengan isu global, Hermana mengingatkan bahwa persoalan lingkungan bukan sesuatu yang jauh atau abstrak. Ia dekat, bahkan sangat dekat—berakar pada budaya, sejarah, dan cara kita memaknai hubungan dengan alam.
Dalam konteks ini, Munding Dongkol menjadi semacam jembatan antara masa lalu dan masa kini. Cerita rakyat yang dulu mungkin berfungsi sebagai pengingat moral kini mendapatkan fungsi baru sebagai alat kritik terhadap sistem modern. Ini penting, karena sering kali modernitas justru membuat kita terputus dari kearifan lokal yang sebenarnya sudah lama mengajarkan keseimbangan dengan alam.

Kekuatan lain dari karya ini adalah keberaniannya untuk tidak memberikan jawaban yang sederhana. Ia tidak menawarkan solusi instan atau pesan moral yang hitam-putih. Sebaliknya, ia menghadirkan kompleksitas—bahwa manusia adalah bagian dari masalah sekaligus bagian dari solusi. Bahwa pembangunan tidak selalu salah, tetapi menjadi masalah ketika kehilangan kendali dan tidak mempertimbangkan dampaknya.
Pada akhirnya, pertunjukan ini bekerja bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai pengalaman yang menggugah kesadaran. Ia meninggalkan jejak—entah dalam bentuk pertanyaan, kegelisahan, atau bahkan dorongan untuk bertindak. Dan di tengah banjir informasi yang sering kali membuat kita mati rasa, pengalaman seperti ini menjadi sangat berharga.
Apa yang dilakukan dalam drama Munding Dongkol adalah contoh bagaimana seni bisa menjadi medium yang sangat efektif untuk membicarakan isu-isu penting. Ia menunjukkan bahwa tradisi tidak harus statis, bahwa mitos bisa terus hidup dengan cara yang baru, dan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyentuh sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh data dan logika semata.



