Bandoengmooi Gelar Musikal Teater dan Tari Munding Dongkol di Taman Budaya Jawa Barat

Komunitas Bandoengmooi kerjasama dengan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) dan disokong Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kebudayaan, Pasriwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disbudparpora) siap gelar pertunjukan Musikal Teater dan Tari “Munding Dongkol”, Kamis 16 April 2026, pukul 15.30 wib. di Taman Budaya Jawa Barat, Jl. Bulit Dago Selan No. 53A Kota Bandung.

Hermana HMT, dramaturg juga penulis cerita pertunjukan Teater Musikal dan Tari Munding Dongkol mengatakan kegiatan ini dipasilitasi UPTD Pengelolalaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat (PKDJB), Taman Budaya Jawa Barat sebagai unit teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat dengan tajuk Festival Kreasi Pertunjukan Seni Jawa Barat 2026 yang disokong oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Menurut Hermana, dahulu masyarakat di Kota Cimahi terutama yang hidup berdekatan dengan aliran sungai, mengenal istilah Jurig Cai (Siluman Air). Yaitu mahluk gaib yang hidup di air dan dianggap berwatak jahat.  Mahluh itu termasuk mahluk yang jarang muncul, namun sekali muncul, konon katanya suka menarik orang yang sedang mandi atau berenang kedasar sungai dan mengakibatkan orang itu meninggal dunia. Jurig Cai digambarkan oleh orang-orang dalam wujud yang menyeramkan menyerupai kepala binatang seperti buaya, ular, kerbau atau berwujud manusia buruk rupa. Namun ada pula yang menggambarkan menyerupai gulungan samak (tikar) dan orang menyebutnya Lulub Samak. Adalah gambarat dari gelombang air yang mengalir sangat deras dan berputar dikubangan air terjun dan membuat benda-benda atau orang yang masuk dalam kubangan itu turut terbawa berputar.

Gambaran mahluk gaib yang menyerupai kerbau, masyarakat menyebutnya Siluman Munding Dongkol. Mahluk gaib penguasa sungai dengan tubuh yang gempal, tanduk menjulur ke ke depan, sorot mata yang tajam dan menyeramkan. Kemunculannya dipercaya sangat membahayakan. Mahluk itu muncul menjelang mangrib (senja) dan selalu mengejar orang yang melihatnya. Disisi lain siluman Munding Dongkol juga sering muncul ketika aliran sungan sedang meluap. Kemunculannya menjadi tanda bahwa di kawasan tersebut bakal terjadi banjir besar.

Mitos Lulub Samak dan Siluman Munding Dongkol ini menjadi bagian yang tidak tepisahkan dari perkembangan budaya masyarakat Kota Cimahi terutama di kampung Babakan Loa RW 07 Kelurahan Pasirkaliki Cimahi Utara. Salah satunya memberi inspirasi hingga terlahir sebuah karya seni yang disebut Bangbarongan Munding Dongkol.

Bangbarongan Munding Dongkol adalah sejenis seni helaran atau seni arak-arakan dan biasanya digerar pada kegiatan kirab budaya atau karnaval budaya. Sekitar tahun 1970-an sampai dengan pertengahan tahun 1980-an seni ini sering digelar pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tiap tanggal 17 Agustus masyarakat Babakan Loa Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara senantiasa melakukan helaran/kirab budaya. Berjalan kaki menuju lapangan upacara di lapangan Sriwijaya Cimahi (sekarang menjadi Pasar Antri), dengan musik yang terus mengiringi tidak membuat lelah para peserta helaran yang membawa mumundingan (kerbau butan) dengan bahan dari injuk, pembawa dongdang (jempana) berisikan hasil pertanian, pemakai barong (topeng), dan pengiring lainnya. Sepanjang jalan semuanya menari dan bergembira merayakan hari kemerdekaan RI. Selain digelar pada kegiatan agustusan helaran Bangbarongan Munding Dongkol di Babakan Loa juga sangat erat sekali dengan upacara Ngarak Cai dan ritual Ngalokat Cai Cimahi.

Mitos siluman munding dongkol juga mengispirasi terlahirnya kaya seni baru yang berhibungan dengan air dalam sajian musik, teater dan tari. Munding dongkol dalam kompossisi tari atau tari kreasi baru yang mengacu pada gerak dasar tari tadisional Sunda dengan diiringi instrumen dan gambelan Sunda. 

Siluman Munding dongkol bersemayam dalam air yang tenang senantiasa terjaga dan penuh kelembutan. Lenggoknya bagai riak air danau yang sedang tebarkan pesona. Langkahnya guntai, bergemericik bagai air terjun yang sarat dengan keindahan. Disaat itu, kehidupan pun terasa bergairah dan penuh kedamaian.

Namun ketika alam diusik, air tidak memiliki tempat yang memadai untuk bersemayam dengan tenang. Siluman Munding Dongkol akan terbangunkan dari lelap tidurnya. Kelembutanya berubah menjadi murka dan siap menghancurkan segalaya.

Dalam upaya mengangkat cerita legenda dan mitos yang berkembang di daerah, pada kesempatan ini Hermana menyusun cerita Munding Dongkol untuk pertunjukan Musikal Teater dan Tari. Cirita Siluman Munding Dongkol diangkat mejadi latar belakan peristiwa kekinian dalam kehidupan masyarakat modern yang masih terikat tradisi lama dan kepercayaan terhadap mitos.

Cerita digambar dalam bentuk perpaduan tari, musik/lagu, dialog dan pencak silat ini dibuka dengan menghadirkan tari ritual air sebagai perlambang rasa syukur atas kesediaan air yang berkecukupan untuk mejalankan roda kehidupan sehari-hari manusia atau mahluk hidup lainnya, dan sebagai masyarakat agraris sebagai media menggemburkan, penyubur tanah, juga nutrisi bagi padi, sayuran dan palawija. Sehingga hasel panen berlimpah dan kehidupan masyarakat bergairah.

Namun zaman terus berkembang, pikiran manusia berkembang, kehidupan berkembang, industri berkembang, jumlah penduduk semakin banyak dan kebutuhan fasilitas hunian makin bertambah. Budaya masyarakat desa pun bergeser karena terpengaruhi teknologi dari luar dengan masip masuk dalam kehidupannya. Uang benar-benar menjadi alat tukar utama dan menjadi pemuas mejalankan roda kehidupan.

Melihat uang masyarakat yang memiliki tanah banyak  yang tidak tertarik lagi mejadi petani. Mereka memilih menukar tanahnya dengan uang (jual tanah), sehingga tanah sebagai lahan pertanian terus berkurang karena digunakan pengembang untuk bangun perumahan dan perkantoran.

Pengembang melalui brokrer-brokernya bagai siluman (seten), terus merayu pemilik tanah agar tanahnya dijual. Bujuk rayunya cukup berhasil dengan godaan tumpukan uang menyilaukan dan menambah gairah hidup. Ahirnya mereka melepas tanahnya untuk ditanami beton dijadikan pabrik, perumahan hingga kondominium.

Akibar dari itu pembajak sawah tidak laku lagi, kerbaunya dijual karena tidak ada lagi petani yang memanfaat jasa kerbaunya, serta petani yang tersisa alih teknologi ke mensin traktor khusus untuk bajak sawah. Akibat lain adalah sember mata air pada hilang karena diurug tanah oleh pengembang, sehingga makin berkurannya kesediaan air bersih untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sungai-sungai pun mulai tercemar oleh limbah dari perumahan,  pabrik dan kondominium. Segala penyakit akibat pencemaran air sudah mulai menyerang penduduk desa. Mereka beranggapan wabah penyakit itu disebabkan oleh Siluman Munding Dongkol yang minta tumbal. Di sisi lain ada penduduk yang kehilangan anaknya ketika disuruh ibunya untuk mengambil air di sumber mata air dekat kawasan kondominum. Penduduk juga menuding bahwa anak yang hilang itu karena dijadikan tumbal oleh pengusaha yang membangun kondominium kepada Siluman Munding Dongkol yang bersekutu dengannya dan berkuasa dikawasan itu. Rumor terus berkulir, akhirnya sang anak yang hilang ditemukan meninggal di kubangan sungai yang sudah tercemar limbah. Dikabarkan ia terpeleset jatuh kesungai dan tubuhnya terbawa arus hingga tenggelam ke dalam kubangan, bukan karena ditumbalkan pada Siluman Munding Dongkol.*

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Instagram

Most Popular