BANDOENGMOOI – Sanggar Seni Bandoengmooi bersama Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi gelar pertunjukan seni Longser (teater tradisional Jawa Barat) berjudul Munding Dongkol, Sabtu 26 September 2026 di Teater Terbuka Rintisan Kampung Longser, Ciawitali RT 02 RW 09, Citeureup, Cimahi Utara, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Hafidz Permana, sutradara/aktor Longser Munding Dongkol mengatakan, kegiatan ini digelar dalam rangkan peringatan 30 tahun berdirinya Bandoengnmooi sekaligus peluncuran Panggung Teater Terbuka Rintisan Kampung Longser.
“Bersama keterbatasan dan kelebihan kami, pada kesempatan ini bisa mementaskan longser di tempat kami sendiri. Semula pertunjukan akan digelar di gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Jawa Barat tanggal 25 September 2026, namun karena jadwal gedung GPK penuh maka semua kegiatan dialihkan ke Panggung Terbuka milik kami sekaligus peresmian tempat tersebut,” uajar Hafidz, Sabtu (26/9/2026) saat ditemui awak midia ditengah kesibukannya mempersiapkan pertunjukan Longser bersama awak pentas lainnya.
Pertunjukan Longser Munding Dongkol karya dan dramaturg Hermana HMT ini melibatkan 35 orang pemain dan 5 orang crew panggung dengan arahan sutradara Hafidz Permana, penata musik Fitra dan adhit, penata tari Redja HG, penata pencak silat Rivina dan Siskca, penata panggung Noval dan Toha, pimpinan Produksi Ihval Valian dengan didukung para pemain Darto, Jajang, Safari, Apandi, Dio, Syifa, Nadhifa, Raja, Alya, Nurul Oktavia, Salma, Zahra, Dafa, Salwa, Nurul Faujiyyah, Keysha, Adinda, Alvaro, Anisa, Lauren, Sri Mulyani, Akhmad Ramdhani, Rafie, Rafardhan, Nurilani, Sabiya, Maulin, dan Nisa.

“Sebelumnya pertunjukan Longser Munding Dongkol, Rabu (23/9/26) digelar di GOR Sangkuring Kota Cimahi kerjasama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Cimahi dan SMP Tridaya Tunas Indonesia dengan tema Ngamumule Budaya Sunda Pikeun Nonoman (Melestarikan Budaya Sunda untuk Generasi Muda) dan ditonton langsung oleh 150 siswa SMP Tridaya,” ujar Hafidz.
Cerita bersumber dari mitos/cerita rakyat tentang Siluman Munding Dongkol penguasa sungai dan anak sungai Citarum di kawasan Bandung Raya. Kehadiran Munding dongkol dipercaya sebagai tanda akan datangnya bencana banjir akibat sungai Citarum dan anak Sungai Citarum tidak mampu menampung air, sehing menyebabkan air meluap kedaratan, mengamuk, merusak dan menenggelamkan semua yang dilewatinya.
“Namun dalam pertunjukan longser kami tidak mengangkat seutuhnya mitos tersebut. Kisah Munding Dongkol diangkat pada peristawa kekinian yang lebih relevan dan dekat dengan kehidupan masyakat di Cimahi, juga kawasan Bandung Raya. Mending Dongkol menjadi simbol terjadinya kerusakan lingkungan hidup dan menimbulkan segala bencana,” ungkapnya.
Pertujukan diawali dengan tari ritual air koreografer Redja HG, sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas tersedianya air bersih bagi kehidupan. Mereka bergembira karena air yang berkecukupan bukan saja memenuhi kebutuhan bagi tubuh dan cuci kakus, juga membuat tanah menjadi gembur dan subur. Para petani bisa menanam padi dan palawija dengan hasil panen yang berlimpah.
Namun kesarakan mulai merasuki jiwa-jiwa para pengembang dan makelar tanah. Mereka dengan segala daya dan upaya membujuk pemilik tanah angar mau menjual sawah juga kebunnya. Ketika melihat tumpukan uang pemik tanah pun tergoda untuk menjualnya, bahka banyak tanah yang tak memiliki surat kepemilikan yang sah dijual oleh oknum broker dan aparat yang berhubungan dengan pertanahan. Izin alih fungsi lahan sangat dipermudah, akhirnya tanah sawah, kebun, perbukitan, sumber mata air perlahan habis dijadikan pemukiman, perkantoran, juga pabrik.
Ketika dimusim hujan, air yang mengalir deras tidak ada yang menampung, karena tempat penampungan air sudah dipenuhi betor. Air mengalir tidak bisa menyerap ke tanah, sehingga menyebakan banjir, menghatam dan merusak yang dilewatinya.
Di musim kemarau masyarakat menjerit, merasakan kekurangan air karena sumber mata air, sawah, kebun, dan pepehonan tempat menyimpan air sudah tidak ada lagi, berganti menjadi gedung-gedung. Sungai-sungai mulai mengering dan tercemari limbah kotoran rumah tangga, limbah pabrik dan sampah yang dibuang sembarangan ke sungai.
Disisi lain masyarakat dihebohkan oleh kehilangan seorang gadis remaja. Tedingan mengarah pada siluman Munding Dongkol penguasa sungai dan pengusa pengembang. Isu berkembang, gadis remaja bernama Euis hilang karena ditumbalkan pengusaha pengembang pada Siluman Munding Dongkol. Namun setelah dicari kemana-mana Euis ditemukan di kubangan sungai yang penuh limah dalah kendisi sudah tidak bernyawa. Menurut kabar angin Euis jatuh terpeleset ke sungai dan masuk kekubangan penuh sampah juga beracun saat mengambil air di sumber mata air dekat kondominium (perumahan elit).
“Pertunjukan longser Munding Dongkol bukan semata hiburan, namun mengedukasi masyarakat angar senantiasa menjaga tanah, lingkungan hidup, menjaga sungai, dan sumber mata air agar tidak habis-habisan dieksplointasi, tidak tercemar dari berbagai limbah yang membayakan bagi semua mahluk hidup. Siluman Munding Dongkol saat ini bukanlah mahluk gaib yang datang memberi tanda bahaya, tapi tanda bahaya itu beralih wujud berupa limbah beracun atau sampah juga eksploitasi tanah, hutan dan sungai tempat menyimpan air. Sehingga musim hujan air tidak bisa bersemayam ditempat semestinya, air mengalir kesegala arah, mengamuk dan menibulkan bencana. Ketika di musim kemarau kelangkaan air tidak bisa dihindari lagi.” pungkas Hafidz.***



