Bandooengmooi Sebagai Tempat Pengalaman Studi Keaktoran dan Penyutradaraan

Bandooengmooi Sebagai Tempat Pengalaman Studi Keaktoran dan Penyutradaraan Dibawah Asuhan Kang Hermana HMT

Oleh: Giri Mustika Roekmana*

Keterlibatan saya dalam Bandoengmooi menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan saya sebagai seorang aktor dan pelaku seni pertunjukan. Pengalaman tersebut mempertemukan saya dengan dua wilayah yang memiliki karakter berbeda tetapi saling melengkapi, yaitu teater modern dan seni pertunjukan tradisional Longser.

Pengalaman pertama saya terlibat dalam garapan teater bersama Bandoengmooi adalah melalui pertunjukan Tembang Semut Merah pada tahun 1999, ketika saya dipercaya sebagai aktor. Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berarti karena menjadi salah satu titik awal saya dalam mengenal proses kerja kreatif bersama kelompok, memahami disiplin latihan, membangun karakter, serta menghadirkan sebuah gagasan ke atas panggung. Melalui Tembang Semut Merah, saya mulai merasakan bahwa menjadi aktor bukan hanya persoalan menghafal dialog atau memainkan karakter. Seorang aktor harus mampu memahami keseluruhan cerita, membaca situasi panggung, membangun hubungan dengan lawan main, serta memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap proses kolektif.

Selain dalam teater modern, saya juga mendapatkan pengalaman dalam berbagai kegiatan dan garapan Longser. Salah satu pengalaman yang berkesan adalah keterlibatan dalam Tamiang Meulit Kabitis. Berhadapan dengan bentuk pertunjukan Longser memberikan pengalaman yang berbeda. Longser mempunyai energi permainan yang lebih cair, komunikatif, dan dekat dengan penonton. Unsur humor, musik, gerak, dialog, serta improvisasi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari permainan aktor.

Dalam Longser, saya belajar untuk lebih peka terhadap situasi yang terjadi di atas panggung. Tidak semua peristiwa dapat diperlakukan secara kaku sebagaimana teks. Aktor harus mampu merespons suasana, membaca reaksi penonton, berkomunikasi dengan pemain lain, dan tetap menjaga jalannya pertunjukan. Pengalaman tersebut secara tidak langsung memperkaya kemampuan pemeranan saya.

Keterlibatan dalam teater modern dan Longser memberikan pemahaman bahwa keduanya mempunyai kekuatan masing-masing. Teater modern memberikan ruang eksplorasi terhadap bentuk, karakter, struktur dramatik, dan pendekatan artistik, sedangkan Longser memberikan pelajaran mengenai spontanitas, keluwesan, musikalitas, humor, serta kedekatan langsung dengan masyarakat.

Bagi saya, pengalaman di Bandoengmooi menjadi sebuah proses belajar yang berlangsung melalui praktik. Saya belajar bukan hanya dari latihan dan pementasan, tetapi juga dari interaksi dengan sesama aktor, sutradara, pemusik, penata artistik, serta seluruh orang yang terlibat dalam produksi.

“SABREHNA” DAN JEJAK PENYUTRADARAAN

Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan berkesenian saya bersama Bandoengmooi adalah ketika saya mendapat kesempatan untuk terlibat dalam proses penyutradaraan Kang Hermana HMT. Bagi saya, pengalaman tersebut bukan sekadar pengalaman menjadi bagian dari sebuah produksi pertunjukan, tetapi menjadi sebuah proses pembelajaran yang kemudian memberikan pengaruh terhadap cara saya memahami dan melakukan penyutradaraan.

Ada satu konsep yang sampai hari ini masih saya ingat dan terus menjadi inspirasi dalam proses kreatif saya, yaitu “Sabrehna.” Konsep tersebut memberikan pemahaman kepada saya bahwa sebuah pertunjukan tidak harus selalu dibangun melalui sesuatu yang berlebihan. Justru dari kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian untuk membiarkan aktor serta peristiwa panggung hadir secara apa adanya, dapat muncul kekuatan artistik yang mendalam.

“SABREHNA” bagi saya kemudian tidak hanya menjadi sebuah istilah atau metode kerja dalam proses latihan, tetapi berubah menjadi cara pandang terhadap teater. Ada kesadaran bahwa aktor harus mengalami, bukan sekadar melakukan; bahwa tubuh harus hadir, bukan sekadar bergerak; dan bahwa sebuah adegan harus memiliki alasan keberadaannya, bukan hanya dibuat untuk memperindah pertunjukan.

Dalam proses bersama Kang Hermana HMT, saya belajar untuk tidak terburu-buru mencari bentuk. Proses penciptaan justru dimulai dari penggalian terhadap aktor, teks, situasi, ruang, serta kemungkinan-kemungkinan yang muncul selama latihan. Aktor diberikan ruang untuk menemukan dirinya di dalam karakter dan peristiwa dramatik. Pengalaman tersebut kemudian memengaruhi cara saya memandang posisi seorang sutradara. Sutradara bukan semata-mata orang yang menentukan segala sesuatu di atas panggung, tetapi juga seseorang yang membuka kemungkinan. Ia menciptakan ruang agar aktor dapat menemukan sesuatu yang mungkin sebelumnya tidak disadari.

Kesan tersebut semakin kuat ketika saya kemudian mengembangkan gagasan penyutradaraan pada naskah Raja Mati karya Eugène Ionesco. Waktu itu saya berperan sebagai TABIB. Naskah yang berbicara tentang kematian, absurditas kehidupan, kekuasaan, ketakutan, dan ketidakberdayaan manusia tersebut memberikan ruang yang sangat luas untuk menerapkan cara pandang yang saya dapatkan dari pengalaman bersama Kang Hermana HMT. Saya tidak melihat Raja Mati semata-mata sebagai naskah absurd yang harus dimainkan dengan bentuk-bentuk yang aneh atau penuh simbol. Saya lebih tertarik menggali kejujuran manusia ketika berhadapan dengan kematian. Raja yang berkuasa pada akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kekuasaan tidak mampu menyelamatkannya dari kematian. Di sinilah pengalaman tentang “Sabrehna” menemukan relevansinya.

Kematian dalam Raja Mati tidak harus selalu diperlihatkan melalui sesuatu yang spektakuler. Justru dalam kesederhanaan, keheningan, tatapan, napas, tubuh yang melemah, atau dialog yang berhenti sejenak, dapat muncul perasaan tentang kefanaan manusia.

Pengalaman disutradarai oleh Kang Hermana HMT membuat saya memahami bahwa kekuatan teater tidak selalu berada pada seberapa banyak yang ditampilkan, tetapi pada seberapa dalam sesuatu yang sederhana mampu dirasakan oleh penonton. Pemahaman tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan dalam perjalanan penyutradaraan saya. “Sabrehna” menjadi semacam jejak artistik yang terus saya bawa dalam proses penciptaan. Ia mengajarkan saya untuk percaya pada aktor, percaya pada proses, dan yang paling penting, percaya bahwa sebuah peristiwa panggung akan memiliki kekuatannya sendiri ketika dibangun dari kejujuran.

Bagi saya, pengalaman bersama Kang Hermana HMT bukan hanya bagian dari masa lalu. Ia menjadi semacam warisan cara berpikir artistik yang terus saya bawa dalam berbagai proses penciptaan karya. Raja Mati karya Eugène Ionesco menjadi salah satu karya yang memperlihatkan bagaimana pengalaman tersebut menemukan bentuk dan konteks baru dalam proses penyutradaraan saya.

Pada akhirnya, “Sabrehna” bagi saya bukan sekadar konsep tentang kesederhanaan. Ia adalah cara untuk melihat teater sebagai sebuah proses menghadirkan manusia apa adanya—dengan ketakutan, kelemahan, kekuasaan, kesunyian, dan keterbatasannya. Dan justru ketika manusia hadir tanpa banyak topeng itulah, panggung dapat menemukan kebenarannya.

Saya melihat Bandoengmooi sebagai ruang yang menarik dalam perjalanan seni pertunjukan karena mampu mempertemukan semangat teater modern dengan kekuatan seni pertunjukan tradisional, khususnya Longser. Pengalaman saya dari Tembang Semut Merah hingga keterlibatan dalam Longser seperti Tamiang Meulit Kabitis menunjukkan bahwa seorang aktor membutuhkan kemampuan yang beragam. Aktor tidak cukup hanya menguasai teknik pemeranan, tetapi juga harus memiliki kemampuan beradaptasi terhadap bentuk pertunjukan yang berbeda. Longser memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah pertunjukan dapat membangun komunikasi yang dekat dengan penonton. Humor dan improvisasi menjadi kekuatan, tetapi di balik itu terdapat kemampuan aktor untuk menjaga ritme pertunjukan dan mempertahankan karakter.

Sementara itu, teater modern memberikan ruang untuk melakukan eksplorasi yang lebih luas terhadap tubuh, suara, karakter, teks, ruang, dan konsep pertunjukan. Bagi saya, pertemuan antara keduanya justru menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Bandoengmooi dapat menjadi ruang untuk melihat bahwa seni tradisi bukan sesuatu yang harus ditempatkan sebagai masa lalu. Longser masih memiliki kemungkinan untuk terus berkembang apabila dibaca dan dikembangkan melalui kreativitas generasi sekarang. Yang paling penting adalah bagaimana proses pengembangan tersebut tetap menghargai akar tradisinya. Modernisasi tidak berarti menghilangkan identitas, tetapi dapat menjadi cara untuk menemukan bentuk penyajian baru agar seni pertunjukan tradisional tetap memiliki hubungan dengan masyarakat dan penonton masa kini.

Saya berharap Bandoengmooi dapat terus hidup dan berkembang sebagai ruang berkesenian, ruang belajar, dan ruang regenerasi bagi para pelaku seni pertunjukan. Pengalaman sejak Tembang Semut Merah tahun 1999 hingga berbagai kegiatan Longser seperti Tamiang Meulit Kabitis menunjukkan kepada saya bahwa proses berkesenian membutuhkan ruang yang berkelanjutan. Tidak cukup hanya menghasilkan satu atau dua pertunjukan, tetapi harus ada proses panjang berupa latihan, penciptaan, diskusi, pertukaran pengalaman, dokumentasi, dan regenerasi. Saya berharap generasi muda semakin banyak mendapatkan kesempatan untuk mengenal Longser bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai pengetahuan dan pengalaman artistik. Mereka dapat belajar mengenai pemeranan, musik, humor, improvisasi, bahasa, tubuh, serta nilai-nilai sosial yang terdapat di dalamnya.

Saya juga berharap Bandoengmooi dapat terus membuka kemungkinan kolaborasi antara seniman tradisi, seniman teater modern, akademisi, komunitas, dan generasi muda. Dengan demikian, Longser tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi menjadi kesenian yang terus dimainkan dan mengalami perkembangan. Bagi saya pribadi, Bandoengmooi merupakan bagian dari perjalanan untuk terus belajar sebagai aktor. Dari teater modern saya belajar tentang eksplorasi dan disiplin artistik, sementara dari Longser saya belajar tentang spontanitas, keberanian bermain, komunikasi dengan penonton, dan pentingnya merawat akar budaya.

Harapan saya sederhana, semoga Bandoengmooi terus memiliki panggung, terus memiliki generasi, dan terus memiliki keberanian untuk berkarya. Karena selama masih ada orang yang mau belajar, bermain, selama itu pula tradisi akan tetap hidup.***

*Giri Mustika Roekmana adalah Dosen Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten.

Similar Articles

Comments

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Instagram

Most Popular