Pengalaman Estetik: Jejak Inkubasi Kreatif Bersama Bandoengmooi
oleh Rano Sumarno,S.Sn., M.Sn
Sebagai Dosen dan pelaku seni, saya menemukan salah satu titik pijak dan laboratorium terpentingnya di dalam denyut Bandoengmooi. Keterlibatan saya dalam berbagai pementasan bersama kelompok ini bukan sekadar sebuah pengalaman berkesenian yang melintas begitu saja, melainkan sebuah proses inkubasi jiwa dan estetika yang terus bernyawa hingga hari ini. Di sanalah dasar kreativitas saya ditempa, berproses, dan menemukan keberanian untuk melangkah menembus batas-batas lokal hingga panggung internasional.
Secara spesifik, akar teater modern yang saya bangun tidak dapat dilepaskan dari pengalaman estetis ketika saya terlibat dalam pementasan-pementasan bersama Bandoengmooi, seperti naskah “Raja Mati” (Le Roi se meurt) karya Eugene Ionesco pada tahun 2004 di Bandung. Pengalaman mementaskan teater-teater absurdis bersama Bandoengmooi memberikan cara pandang baru bagaimana sebuah gagasan filosofis yang sunyi dan universal dapat diterjemahkan ke dalam laku teater yang hidup. Pendekatan artistik tersebut hingga kini menjadi salah satu sumber inspirasi mendalam dalam setiap karya teater modern yang saya ciptakan— menghadirkan kedalaman makna di balik lapis-lapis metafora visual dan pertunjukan.
Tidak hanya di ranah teater modern, napas tradisi yang mengalir di dalam tubuh Bandoengmooi juga memberikan transmisi pengetahuan yang luar biasa kuat. Melalui keterlibatan intensif saya dalam berbagai pementasan Longser sejak tahun 2003 hingga sekitar tahun 2015, saya belajar tentang kejujuran berekspresi, kepekaan terhadap ruang publik, kedekatan jarak dengan penonton, serta dinamika teater rakyat yang hidup. Pengalaman berkesenian tradisi ini meresap begitu dalam, menjadi kompas dan inspirasi utama setiap kali saya merancang karya-karya berbasis tradisi yang segar, kontekstual, dan membumi.
Hingga saat ini, seluruh memori, disiplin, dan proses kreatif yang saya jalani bersama Bandoengmooi telah berinkubasi menjadi energi artistik yang mandiri. Bekas-bekas keringat, proses latihan yang panjang, dan perenungan estetik di masa lalu menjelma menjadi bahan bakar bagi karya-karya saya yang kini kian berkembang, bahkan melanglang buana hingga ke mancanegara. Bandoengmooi bukan sekadar tempat saya belajar berteater, melainkan rumah kultural di mana napas kesenian saya pertama kali dihidupkan dan dibentuk dengan penuh ketulusan. ***
*Rano Sumarno,S.Sn., M.Sn adalah pelaku tetaer, dosen dan Ketua Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.



