JABARSATU– Bandung, malam yang bergerak pelan. Di dalam Gedung YPK Naripan Braga, waktu seperti mengambil bentuk lain: ia menari, bernyanyi, lalu tiba-tiba menertawakan dirinya sendiri. Malam 2 Mei 2026, pertunjukan Longser “Embegeh” tidak datang sebagai jawaban, melainkan sebagai cara lain untuk mengunyah sesuatu yang terlalu sering ditelan bulat-bulat.
Sejak bubuka pertama dilantunkan, suasana sudah ditentukan—bukan oleh narasi, tapi oleh rasa. Sinden tidak sekadar membuka pertunjukan; ia seperti menarik ingatan kolektif penonton ke satu titik: bahwa apa yang akan disaksikan bukan sekadar cerita, melainkan pantulan.
Empat tubuh menari di bawah cahaya biru. Gerak mereka tidak terburu-buru menjelaskan apa pun. Justru dalam jeda dan patahan itulah sesuatu bekerja—sebuah ketidaksinkronan yang terasa akrab. Seolah ada yang dirancang rapi, tapi selalu meleset sedikit ketika menyentuh tanah.
Ketika para aktor masuk, bahasa berubah menjadi permainan. Sosok “Raja” berbicara panjang, rapi, dan meyakinkan—terlalu meyakinkan, sampai kehilangan beratnya. Di hadapannya, seorang ibu mencoba menangkap makna dengan cara paling sederhana: membedakan “gizi” dari “gaji”. Di sudut lain, seorang anak yang kenyang justru mengingat sesuatu yang tak ikut disajikan.
Tawa muncul bukan karena semuanya lucu, tapi karena semuanya terasa dekat.

Di titik ini, Longser tidak menunjuk. Ia hanya menggeser sudut pandang sedikit saja—cukup untuk membuat yang biasa menjadi ganjil. Program yang terdengar utuh di atas kertas, di panggung berubah menjadi fragmen: potongan niat baik, potongan kebingungan, potongan konsekuensi yang tak selalu ikut dihitung.
Interval datang seperti napas kedua. Lima penari berbaju merah bergerak cepat, hampir tergesa. Pola yang mereka bangun seperti ingin rapi, tapi selalu pecah sebelum selesai. Tubuh-tubuh itu seperti mengingatkan: tidak semua yang dirancang bisa tiba dalam bentuk yang sama.
Tidak ada yang benar-benar disimpulkan. Dan mungkin memang tidak perlu.
Di akhir, semua pemain berkumpul di tengah panggung. Bukan sebagai resolusi, melainkan sebagai penumpukan—bahwa apa yang sedang dibicarakan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu melibatkan banyak tubuh, banyak suara, banyak tafsir.
Di luar gedung, kota tetap berjalan seperti biasa. Tapi sesuatu dari dalam panggung ikut terbawa keluar—bukan sebagai pesan, melainkan sebagai gangguan kecil dalam cara kita melihat.
Longser “Embegeh” tidak meminta untuk disetujui. Ia hanya menawarkan satu kemungkinan: bahwa sebelum sebuah kebijakan menjadi angka dan laporan, ia pernah menjadi sesuatu yang harus dirasakan.
Dan barangkali, di situlah kritik bekerja paling pelan—dan paling lama tinggal. Cag…!!!
NIZAR “ISMIME” DARMAWAN, jurnalis dan aktivis Jala Bhunm Kultura (JBK)



